Selama kunjungan para peneliti ke Nibutani, mereka membuat pangsit beras bersama sekelompok penduduk.
Mereka menghadiri salah satu kelas reguler yang diampu Kenji Sekine, yang diikuti lebih dari selusin siswa berusia tujuh hingga 15 tahun.
Te Ataarangi, sebuah metode pengajaran bahasa yang menekankan berbicara dan visualisasi, yang dikembangkan oleh masyarakat Maori, sebuah kelompok Pribumi di Selandia Baru.
"Yang kami perjuangkan saat ini adalah persoalan kurangnya rekaman percakapan. Orang terakhir yang kami sebut sebagai penutur asli meninggal dunia 20 tahun yang lalu," kata Kenji.
Menjaga keberlangsungan Ainu jelas penting bagi komunitas ini.
Tapi apa konsekuensinya?
Maya Sekine bertanya-tanya apakah data yang digunakan untuk melatih sistem AI akan sepenuhnya dapat diakses publik.
David Ifeoluwa Adelani, dosen di Fakultas Ilmu Komputer Universitas McGill di Kanada, berkata bahwa para peneliti Ainu perlu membangun kepercayaan dan transparansi dengan komunitas.
"Dalam beberapa kasus revitalisasi bahasa, ada aspek, 'Anda datang dan mengumpulkan data, lalu menjualnya kembali kepada kami'," kata Adelani.
"Para peneliti perlu mendapatkan persetujuan dan kemudian menyepakati bagaimana data tersebut akan digunakan," tuturnya.