"Bahasa adalah hal terpenting bagi kami. Bahasa adalah hubungan antara budaya dan nilai-nilai kami," kata Maya.
"Keluarga juga. Kami memiliki keluarga besar; kami berkumpul setiap malam dan makan malam. Ini adalah nilai-nilai Ainu," ujarnya.
Meskipun saat ini hanya ada sedikit penutur bahasa Ainu, terdapat banyak sekali kisah lisan yang tersimpan.
Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti memanfaatkan arsip audio untuk menghidupkan kembali bahasa Ainu.
"Dengan menggunakan teknologi, proses ini sebagian besar telah terotomatisasi. Mereka sekarang memiliki 300 hingga 400 jam data tentang bahasa Ainu," kata Tatsuya Kawahara, pakar informatika di Universitas Kyoto, yang memimpin proyek pelestarian rekaman Ainu.
"Kualitas suaranya kurang bagus karena banyak yang direkam menggunakan perangkat analog di rumah-rumah, yang terkadang berisik. Pekerjaan ini sangat menantang," ujarnya.
uwepeker—istilah untuk prosa naratif Ainu.
Rekaman itu berisi delapan penutur, selama ini disimpan Museum Nasional Ainu Upopoy dan Museum Kebudayaan Ainu Nibutani.
Kumpulan rekaman itu merupakan sebagian dari berbagai arsip yang secara total berisi sekitar 700 jam data vokal, yang dikumpulkan sejak tahun 1970-an.
Sebagian besar rekaman itu berbentuk kaset, seperti cerita rakyat yang didengar Maya semasa kecil.