Mereka cemas teknologi ini dapat menciptakan ujaran palsu atau menyebarkan misinformasi.
Namun mereka yang mendukung proyek ini telah membantu memeriksa kualitas transkrip dan ujaran yang dihasilkan komputer serta data sumbernya.
"Sulit untuk mengatakan apa yang saya pikirkan tentang proyek ini," kata Maya.
Meskipun AI dapat meningkatkan kesadaran publik terhadap bahasa tersebut, Maya menilai orang Ainu harus memiliki pengetahuan tentang bahasa tersebut, agar mereka dapat memahami mana yang palsu.
"Yang lebih penting adalah mendapatkan dan memverifikasi data langsung," kata Maya.
Maya telah membuat rekamannya sendiri yang berbasis cerita-cerita Ainu yang dituturkan neneknya dan penduduk lanjut usia lainnya di Nibutani.
Ayah Maya, Kenji Sekine, ikut serta dalam inisiatif AI. Dia membantu tim itu mencari rekaman masa lalu.
Meskipun bukan orang Ainu, Kenji mulai mempelajari dialek Saru dari bahasa tersebut, saat membantu istrinya menjalankan kelas bahasa Ainu untuk anak-anak di Nibutani pada 1999.
Kenji akhirnya mengambil alih kursus tersebut dan telah mengajar bahasa Ainu sejak saat itu.
"Ini adalah pekerjaan hidup saya. Saya ingin lebih banyak orang belajar. Saya pikir proyek AI ini adalah hal yang baik," ujar Kenji.