"Upopoy tampak seperti contoh lain bagaimana Jepang menggunakan kekuasaan mereka atas Ainu," ujar aktivis Ainu, Shikada Kawami.
"Saya tidak tahu berapa banyak Ainu yang menyadari sejauh mana mereka masih dieksploitasi," ujarnya.
Menurut Kawahara, Museum Nasional Ainu memegang hak cipta atas data asli yang digunakan untuk mengembangkan sistem tersebut, dengan persetujuan dari keluarga para penutur.
Laboratorium tersebut memiliki hak atas sistem AI itu sendiri. "Namun, sistem ini tidak akan berfungsi tanpa data," ujarnya.
Di masa mendatang, verifikasi kinerja AI akan sulit dilakukan mengingat minimnya penutur Ainu, kata Sara Hooker, kepala Cohere for AI, sebuah lembaga nirlaba yang bertindak sebagai divisi riset untuk perusahaan teknologi Cohere.
"Ketika kami memikirkan sistem multibahasa dan jangkauan global, yang penting bukan hanya memastikan bahasa-bahasa tersebut tercakup, tapi memastikan nuansa dan cara orang menggunakan model-model ini setiap hari cukup kaya untuk melayani masyarakat," tuturnya.
Walau begitu, kecerdasan buatan untuk pengenalan dan pembangkitan suara telah berkembang pesat, kata Francis Tyers, penasihat linguistik komputasional di Common Voice.
Saat ini, para pengembang merilis sistem AI yang mencakup ratusan bahasa—sesuatu yang mustahil lima tahun yang lalu.
"Dalam dunia yang ideal, teknologi bahasa dibuat oleh penutur, untuk penutur," kata Tyers.
Dia mencontohkan Spanyol, negara dengan banyak sistem penerjemahan mesin yang menargetkan bahasa-bahasa yang kurang terlayani seperti Katalan atau Basque dipelopori oleh anggota komunitas tersebut sendiri.