Walau begitu, rekaman itu terdengar agak cepat.
"Saya berharap AI semacam ini dapat membantu orang-orang di Hokkaido, baik leluhur Ainu maupun kaum muda, untuk mempelajari bahasa Ainu," kata Kawahara.
Kawahara berkata, AI juga memungkinkan terciptanya avatar virtual, yaitu asisten pengajar Ainu yang dapat membimbing para pembelajar.
Timnya juga berharap dapat menangkap lebih banyak dialek Ainu dengan AI serta menyertakan konten dari generasi muda, bukan hanya rekaman lama.
Saat ini, kemampuan penerjemahan AI itu sebanding dengan kemampuan mahasiswa pascasarjana bahasa Ainu, klaim para peneliti.
Saat melakukan transkripsi beberapa penutur, akurasi pengenalan kata AI mencapai 85%.
Akurasi AI dalam mengenali fonem (unit bunyi individual dalam suatu bahasa) bisa mencapai 95%, meski angka ini turun menjadi 93% untuk penutur asing yang menggunakan dialek yang sama, dan menjadi 85% untuk penutur dengan dialek yang berbeda.
Namun Maya Sekine meragukan kemampuan AI untuk berbicara bahasa Ainu secara autentik.
Dia khawatir teknologi ini akan menyebarkan pengucapan yang keliru dan berbagai kesalahan lainnya.
Awalnya, banyak keturunan Ainu yang dihubungi Kawahara, dan timnya juga waspada terhadap proyek ini.