Menurut arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Marlin Tolla, tim awalnya mengira hanya ada satu jenazah di lahan yang digali pada 31 Juli, tetapi ternyata ada dua.
“Posisi kedua jenazah bertumpuk. Kepala individu kedua berada di atas kaki individu pertama,” ujar Marlin usai penggalian.
Selain kerangka, tim juga menemukan pecahan granat, bayonet, lebih dari selusin peluru, serta serpihan logam berbentuk J yang diduga berasal dari sepatu militer Jepang.
Salah satu kerangka menunjukkan luka parah pada bagian tengkorak, kemungkinan akibat pertempuran.
Lokasi itu pertama kali ditemukan oleh warga setempat yang tanpa sengaja menggali tanah di belakang rumahnya.
Penggalian ini juga diikuti Ryoko Hidehira (84), seorang warga dari Prefektur Okayama, Jepang.
Ia belum menemukan jasad ayahnya yang gugur di Papua Barat pada masa perang.
Sejak 1996, Hidehira aktif mengikuti upaya pemerintah Jepang mencari sisa-sisa tentara di luar negeri.
Dengan kuas kecil di tangannya, ia menyapu tanah dari tulang yang ditemukan sambil berbisik, “Maaf sudah terlalu lama. Mari kita pulang bersama.”
Usai penggalian, ia menaburkan butiran beras di lokasi dan mengheningkan cipta bagi para korban perang.