Baca juga:
Di musim panas, rumah dan kuil di Jepang sering dihiasi fūrin, lonceng angin dari kaca dengan kertas tanzaku yang menggantung.
Setiap kali tertiup angin, terdengar bunyi lembut yang memberi kesan menyejukkan meski cuaca sedang terik.
Bagi masyarakat Jepang, suara fūrin bukan hanya dekorasi, tapi simbol rasa damai sekaligus pengingat hembusan angin musim panas.
Kebiasaan ini sederhana, tetapi dipercaya mampu memberi efek psikologis yang menenangkan.
Tradisi lama ini dilakukan dengan menyiram air di jalanan, halaman rumah, atau depan toko.
Tujuannya untuk menurunkan suhu sekitar, mengurangi debu, sekaligus membuat lingkungan terasa lebih segar.
Di beberapa tempat, kegiatan uchimizu dilakukan bersama warga sekitar sehingga menjadi ajang mempererat hubungan tetangga.
Bahkan ada laporan bahwa kegiatan ini bisa menurunkan suhu udara hingga sekitar 1 derajat Celsius.
Selain bermanfaat, ritual ini juga menjadi bentuk kepedulian lingkungan yang terus dipertahankan masyarakat Jepang.
Musim panas di Jepang identik dengan festival atau matsuri yang meriah.